shadow

Nilai Tukar  Rupiah dan Euro Melemah, Ekspor TertekanFinanceroll – Penurunan nilai tukar rupiah yang disertai melemahnya euro yang dalam diprediksi akan membuat industri dalam negeri tertekan dan secara keseluruhan tidak menguntungkan ekspor.

Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawady, mengatakan khusus untuk ekspor manufaktur pelemahan nilai tukar rupiah dapat meningkatkan daya saing. Namun, pelemahan rupiah akan membuat industri manufaktur Indonesia yang berbahan baku dan bahan penolong dari impor tertekan.

Berkurangnya nilai tukar saat ini diperkirakan tidak akan langsung menguntungkan eksportir, karena nilai tukar euro juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat, sehingga akan menurunkan ekspor. Menurut Edy, ekspor sumber daya alam pada dasarnya tidak terpengaruh signifikan terhadap fluktuasi nilai tukar karena produk ini tetap akan dibeli.

Namun, volatilitas nilai tukar akan sangat berpengaruh pada produk manufaktur. Menurut data Badan Pusat Statitik, total ekspor pada 2011 mencapai US$ 203,62 miliar, meningkat 29,05% dibanding 2010 yang sebesar US$ 157,78 miliar.

Pada 27 Februari 2012, nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 9.125 per dolar Amerika Serikat dibandingkan saat pembukaan di level Rp 9.060 per dolar Amerika Serikat, setelah bergerak di kisaran Rp 9.060–Rp 9.125 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah ini dikarenakan tingginya permintaan dolar oleh korporasi global.

Kepala Riset Treasury PT Bank BNI Tbk (BBNI), Nurul Eti Nurbaeti, mengatakan,  pelemahan nilai tukar akan membuat daya saing produk Indonesia meningkat. Namun, penurunan perdagangan internasional karena kondisi global menyebabkan pelemahan nilai tukar tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap ekspor.

Pelemahan rupiah akan berdampak buruk bagi inflasi karena mendorong imported inflation yang berasal dari harga produk impor yang lebih mahal. Pemerintah disarankan menjaga agar nilai tukar rupiah tidak terlalu melemah karena akan membuat tekanan inflasi semakin tinggi.

Tekanan inflasi tahun ini juga akan datang dari rencana kenaikan harga BBM subsidi dan tarif listrik. Laju inflasi tahun ini diperkirakan lebih tinggi dari perkiraan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012 sebesar 5,3%. (geng – Kurs Rupiah).

 

Author

Sugeng Riyadi
Sugeng Riyadi

Menjadi praktisi di beberapa perusahaan sekuritas, komoditi, dan perdagangan berjangka sejak tahun 2006. Berminat pada masalah-masalah ekonomi, politik, dan hukum. Meneguhkan komitmen sosialnya melalui koperasi pedagang pasar tradisional. Menikmati waktu luang dengan bepergian, memotret, membaca, nonton film, membuat kliping, serta mengkoleksi beragam jenis pulpen dan mengumpulkan berbagai bahan bacaan di Sugeng Riyadi Library. Saat ini sedang belajar di Driyarkara School of Philosophy, Jakarta. Penulis dapat dihubungi di e-mail: [email protected], twitter: @maspokrol, facebook: www.facebook.com/srismoyo, BBM: 7d471809

Untuk Berlangganan Sinyal Trading Premium, Silahkan Undang Pin BB 215A2918
shadow

Related Posts

Comments

  1. muhammad zakir    

    Kurs Rupiah kemungkinan akan tertekan jika rencana kenaikan harga BBM direalisasikan, hal ini tentunya sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Comments are closed.